Menurut data kesehatan dikatakan bahwa 90% penyakit berasal dari perut disebabkan karena toksin dan oksidator yang mendekam di dalam usus serta menempel di dinding usus yang berakibat akan menghambat penyerapan zat-zat makanan yang dikonsumsi. Kondisi tersebut dalam waktu lama bisa berakibat menjadikan berbagai macam penyakit (asam urat, kanker, tumor, sakit persendian, masalah ginjal, jantung, gangguan otak dsb).
“Lambung manusia itu tempatnya segala penyakit. sedangkan pencegahan itu pokok dari segala pengobatan.”
(HR. Ad-Dailami)
DR. Bernard Jansen : Jika toksin yang berada dalam tubuh tidak dikeluarkan niscaya akan mengganggu penyerapan zat makanan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan dan otak.”
Serbuk beras merah (SBMN) adalah makanan sehat kaya serat dan mineral-mineral alami yang sangat bermanfaat bagi pencernaan. Sedangkan serbuk kedelai (SKA-72) merupakan paduan yang sangat baik dengan serbuk beras merah karena mengandung protein, asam amino, isoflavon dan lecithin yang berperan penting untuk menunjang kesehatan tubuh.
Beberapa Fakta terkait serat, protein, asam amino, isoflavon dan lecithin :
Membantu mengoptimalkan kerja pencernaan
Konsumsi serat secara rutin akan mempercepat pembuangan kotoran dari usus ( organ pencernaan bersih dari kotoran) sehingga terhindar dari berbagai gangguan penyakit. Serat juga membantu meringankan kerja lambung, usus dan meringankan kerja enzim pencernaan.
2.Membantu program diet
Serat dalam pencernaan dapat mengembang dan membentuk gel sehingga lambung terasa penuh (tidak mudah lapar/menunda keinginan untuk makan berlebihan). Sangat tepat untuk membantu program diet.'
3.Membantu mengatasi maag
Asam lambung yang berlebih akan merusak dinding lambung (memicu maag). Serat yang cukup di dalam lambung dapat mencegah produksi asam lambung berlebihan, sehingga membantu mengatasi sakit maag.
4.Membantu mengurangi kadar kolesterol dalam darah
Kolesterol dapat terikat oleh serat dan selanjutnya akan dibuang lewat feses. Semakin banyak kolesterol yang terikat oleh serat maka kadar kolestrol darah semakin menurun.
5.Membantu mencegah kanker usus
Serat akan mempercepat waktu transit kotoran dalam usus besar sehingga membantu mencegah terjadinya kanker usus dan susah buang air besar. Sedangkan kedelai mengandung isoflavon yang berfungsi untuk antioksidan dan menangkal radikal bebas berbahaya sebagai penyebab timbulnya sel kanker.
6.Membantu proses regenerasi sel
Protein dalam SBMN dan SKA-72 akan dirubah menjadi asam amino penting yang sangat bermanfaat untuk membantu proses penyembuhan, perbaikan sel dan jaringan tubuh yang rusak. Selain itu kandungan lecithin kedelai dalam SKA-72 sangat bermanfaat dalam membantu proses perbaikan sel.
7.Membantu meningkatkan kecerdasan
Kandungan protein nabati dan vitamin - vitamin dalam SBMN dan SKA-72 merupakan zat gizi penting yang akan diolah oleh tubuh untuk mencukupi kebutuhan sel - sel otak sehingga dapat membantu mengoptimalkan kecerdasan.
KANDUNGAN BERAS MERAH (per 100 gr)
Kalori (Kkal/100 gr) : 382,31
Protein (%) : 10,65
Lemak (%) : 4,31
Karbohidrat (%) : 74,24
Serat (%) : 2,10
KANDUNGAN SERBUK KEDELAI
Kalori (Kkal/g): 5.10
Karbohidrat (%) : 31.97
Protein (%) : 37.71
Serat Kasar (%) : 8.24
Ca (%) : 0.038
Lecithin (%) : 1.37
Lemak Jenuh (%) : 15.44
Lemak Tak Jenuh (%) : 84.56
CARA PENYAJIAN SEWAKTU SAHUR DI BULAN PUASA
1.Campurkan SBMN, SKAO-72 dan gula pasir atau susu dengan air panas.
Campurkan 1-2 pack Natural GLIO dalam 25-50 kg pupuk kandang, lalu peram 1-2 minggu sebagai bahan campuran media semai
Komposisi media semai yang akan digunakan terdiri atas tanah, pupuk kandang dan pasir dengan komposisi sebanding (1:1:1).
TEKNIS PEMBIBITAN
Teknik pembibitan tanaman cabe
Pembibitan Cabai
Kebutuhan benih cabe sekitar 10-11 sachet/ha
Lakukan perendaman benih dengan larutan 2-4 cc POC NASA /liter air hangat selama 2 jam
Tiriskan dan peram 2-4 hari, benih yang berkecambah segera disemaikan
Semprotkan POC NASA 2-4 tutup botol/tangki pada bibit usia 7 dan 14 hss (hari setelah semai)
PENGOLAHAN PADA BUDIDAYA CABE
Pengolahan lahan dan Pemupukan Dasar
Taburkan pupuk kandang ( 5-10 ton/ha) dan Dolomit ( 200-300 kg/ha) di lahan
Lakukan olah tanah
Buat bedengan (tinggi 40 cm dan lebar 100 cm) dengan drainase yang cukup
Campurkan SUPERNASA sebanyak 3-6 kg/ha bersama pupuk TSP 150 kg/ha) lalu taburkan secara merata di bedengan. Kemudian tebarkan GLIO (yang sudah dicampur pupuk kandang) ke permukaan bedengan (aplikasi 1 minggu sebelum tanam)
Tutup bedengan dengan mulsa
Pengolahan Lahan pada Budidaya Cabe
Proses Pindah Tanam
Buatlah lubang tanam dengan jarak 60 cm x 60 cm atau 70 c, x 70 cm.
Tanamkan bibit umur 21-30 hari / 5-6 daun.
Teknik pindah tanam pada budidaya cabe
Perlu diperhatikan bahwa saat melepas polybag, bola tanah jangan sampai pecah agar tanaman tidak stress.
Pemupukan dan Pemeliharaan Tanaman
Pemupukan Makro Susulan (Urea, ZA, dan KCL)
Usia 1 4 minggu
Urea 10 sdm
ZA 10 sdm
KCL 10 sdm
POWER NUTRITION 5-10 sdm
Interval 1 minggu
Cara Aplikasi : Campurkan 50 liter air, siramkan 1 gelas per lubang tanam ( 200cc)
Usia 2 minggu dan seterusnya (interval 1-2 minggu):
Semprotkan POC NASA 3-5 tutup/tangki + HORMONIK 1 tutup/tangki + AERO tutup/tangki (Volume tangki 10-17 liter) dengan kebutuhan 20-30 tangki/hektar.
Penyemprotan dilakukan dari atas dan bawah permukaan daun
Keterangan:
Pemasangan ajir dan tali penguat sebaiknya dilakukan saat usia sekitar 15 hari setelah tanam
Perempelan
Sisakan 2-3 cabang utama mulai umur 15-30 hari
Pengamatan Hama & Penyakit Cabai
Hama Yang Sering Menyerang Tanaman Cabai
1. Hama Ulat
a. Jenis ulat
Hama ulat yang sering menyerang tanaman cabai terdiri dari ulat grayak (Spodoptera litura),Helicoverpa sp. dan Spodoptera exigua. Untuk jenis ulat grayak ini memakan daun tanaman cabai sedangkan Helicoverpa sp. dan Spodoptera exigua menyerang buah cabai baik masih hijau atau sudah merah.
b. Pola serangan
Secara umum serangan ulat ini terjadi pada malam hari atau pada saat sinar matahari teduh, misalnya menjelang sore hari. Menurut informasi, ternyata si ulat tidak nyaman menyantap daun atau cabe di bawah terik matahar. Sedangkan pada waktu siang hari yang terik , mereka bersembunyi di bawah ketiak daun, pangkal tanaman atau dibalik mulsa, sehingga mereka nyaman dan aman dari sengatan sinar matahari dan selamat dari penyemprotan bila dilakukan penyemprotan.
c. Pengendalian
Pada malam hari, pada saat ulat keluar dari persembunyiannya, ulat bisa diambil secara langsung dari tanaman cabe untuk dimusnahkan
Penyemprotan pada sore atau malam hari dengan Natural BVR atau PESTONA agar effektif disaat ulat keluar dari persembunyiannya.
2. Hama Kutu Daun
Kutu daun yang sering menyerang cabai adalah jenis Aphids sp. dan Myzus persicae, mereka akan menghisap cairan dalam daun sampai habis. Akibatnya daun mengering dan keriting
a. Pola Serangan
Selain menghisap cairan dalam daun, hama ini sering membawa penyakit lain. Kutu daun mengeluarkan cairan berwarna kuning kehijauan yang mengundang datangnya semut dan jamur hingga menimbulkan lapisan hitam seperti jelaga di permukaan daun.
b. Pengendalian
Secara teknis, daun yeng terserang dipetik dan musnahkan. Hindari menanam cabe yang berdekatan dengan tanaman semangka, melon dan kacang panjang. Perhatikan juga kebersihan kebun. Penggunaan mulsa perak juga cukup effektif untuk mengendalikan hama ini.
Lakukan penyemprotan dengan BVR atau PESTONA di sore hari agar effektif.
3. Hama Thrips (Trips)
a. Gejala serangan
Ciri-ciri dari tanaman cabe yang terserang trips (Thrips parvipinus) pada daunnya akan terlihat garis-garis keperakan, terdapat bercak-bercak kuning hingga kecoklatan dan pertumbuhannya kerdil. Bila dibiarkan daun akan kering dan mati. Serangan trips biasanya menghebat pada musim kemarau. Hama ini juga berperan sebagai pembawa virus dan mudah sekali menyebar.
b. Pengendalian
secara teknis bisa dengan memanfaatkan predator alami hama ini, seperti kumbang dan kepik. Pemakaian mulsa dan menjaga kebersihan kebun effektif menekan perkembangannya. Selain itu, rotasi tanaman membantu mengendalikan hama jenis ini.
Penyemprotan dilakukan bila serangan meluas. Gunakan BVR atau PESTONA.
4. Hama Tungau
Serangan tungau kuning (Polyphagustarsonemus), atau tungau merah (Tetranycus sp.) akan menyebabkan daun keriting melinting ke bawah seperti bentuk sendok terbalik. Daun akan kaku dan tebal, pertumbuhan pucuk menjadi terhambat, daun perlahan akan berubah warna menjadi coklat dan akhirnya mati.
a. Pola Serangan dan Penyebaran
Serangan banyak terjadi pada musim kering, di area teduh. Populasi akan meningkat jika kita terlalu banyak menggunakan pestisida atau pupuk daun kimia buatan yang banyak mengandung belerang (sulfur). Penyebaran dapat terjadi melalui tangan para pekerja atau terbawa angin.
b. Pengendalian
Secara teknis lakukan pencabutan tanaman cabe yang sudah terserang parah sedangkan yang belum parah dipotong pucuk-pucuknya. Sisa tanaman yang terserang dibakar agar tidak menjangkiti yang lain. Untuk mencegahnya, usahakan areal penanaman cabe tidak berdekatan dengan tanaman singkong. Menjaga kebersihan kebun ternyata effektif mengurangi serangan tungau.
Lakukan penyemprotan dengan BVR atau PESTONA
5. Hama Lalat Buah
Serangan hama ini dapat menyebabkan buah menjadi rontok dan dapat menyebabkan kita gagal panen.
a. Pola Serangan
Hama Lalat buah (Bactrocera dorsalis, B. cucurbitae, B. carambolae) ini dapat bersumber dari buah yang terinfeksi, adanya kepompong di dalam tanah, dari tanaman inang seperti mentimun, belimbing, maupun berasal dari tanaman cabe berdekatan yang sudah terserang
Penyebaran dan penularan sangat mudah terjadi karena lalat merupakan salah satu jenis insect (serangga) yang aktif terbang apalagi pada saat terjadinya peralihan musim.
Serangan biasanya terjadi setelah agak siang, yaitu setelah tanaman kering dari embun pagi.
b. Pengendalian
Buah cabe yang sudah rontok atau akan rontok (sudah terserang) dipungut dan dimusnahkan dengan dibakar. Hal ini dilakukan untuk mencegah dan memutus rantai penularan. Dalam cabe yang sudah terserang akan banyak mengandung pupa lalat yang nantinya akan memperparah serangan. Hindari pula menanam cabe terlalu berdekatan dengan tanaman buah misalnya mangga atau belimbing karena tanaman buah juga menjadi target serangan lalat.
Gunakan perangkap lalat Natural Metilat Lem.
Penyakit yang Sering Menyerang Tanaman Cabai
Penyakit-penyakit yang menyerang tanaman cabai bisa disebabkan oleh virus, bakteri maupun jamur yang sering dibawa dari benih maupun oleh hama.
1. Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Patek)
a. Pola Serangan dan Penyebaran
Sumber penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici danColletotrichum gloeosporioides. Sumbernya dapat berasal dari sisa tanaman sakit atau dari benih yang sudah terinfeksi. Akibatnya serangan dapat terjadi mulai pada fase pembibitan. Penyakit ini menyebabkan kecambah layu saat disemaikan. Sedangkan pada fase dewasa serangan menyebabkan mati pucuk, serangan pada daun dan batang menyebabkan busuk kering. Sementara itu, serangan pada buah akan menyebabkan buah menjadi busuk seperti terbakar.
Penyebaran bisa terjadi melalui tangan para pekerja, percikan air, hujan dan angin serta tangan pemetik buah.
b. Pengendalian
Buah yang terserang dikumpulkan dan dimusnahkan. Pada waktu panen dipisahkan.
Serangan berat, sebari dengan Natural GLIO di bawah tanaman.
2. Penyakit Bercak Daun
a. Pola Serangan
Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman cabe disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Ciri-ciri tanaman yang terserang ditandai dengan terdapatnya bercak-bercak bundar berwarna abu-abu dengan pinggiran coklat pada daun. Bila serangan menghebat daun akan berwarna kuning dan akhirnya berguguran. Penyakit ini biasanya menyerang pada musim hujan dimana kondisi kelembaban cukup tinggi.
Penyakit ini menyebar saat jamur masih berupa spora dan bisa dibawa oleh angin, air hujan, hama vektor, dan alat pertanian. Spora jamur juga bisa menempel pada benih atau biji cabe.
b. Pengendalian
Pengendalian terbaik adalah dengan melakukan pencegahan. Pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan memilih benih yang sehat bebas patogen.
Merenggangkan jarak tanam juga berguna meminimalkan serangan agar lingkungan tidak terlalu lembab.
Pengendalian teknis bisa dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi dengan cara dibakar.
3. Penyakit Layu
Serangan penyakit layu ini sangat ditakuti karena sangat sulit dikendalikan. Penyakit layu ini bisa ditumbulkan oleh beragam penganggu tanaman seperti berbagai jenis cendawan dan bakteri. Terdapat dua jenis penyakit layu, yaitu layu fusarium dan layu bakteri.
a. Layu Fusarium
Layu fusarium adalah penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan. Jenis cendawannya adalah Fusarium sp., Verticilium sp. dan Pellicularia sp.
Cendawan ini hidup di lingkungan yang masam
Layu fusarium dapat bersumber dari sisa tanaman sakit atau tanah. Penularan dapat melalui aliran air dan tanah
Beberapa pemicu perkembangan penyakit layu fusarium : tanah berpasir, pupuk N (ZA) yang terlalu terlalu tinggi, kandungan unsur Mn dan Fe dalam tanah terlalu tinggi, kurang pupuk organik bokashi, tanah kekurangan calsium (Ca), dan jumlah nematoda yang tinggi
b. Layu Bakteri
Sedangkan layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Bakteri ini hidup di jaringan batang.
Penyakit ini bersumber dari tanah
Cara menular sama dengan layu fusarium
Pemicu perkembangan penyakit layu bakteri dapat disebabkan oleh : lahan yang terlalu basah, tanah terlalu liat, penggunaan pupuk N (urea) terlalu tinggi, populasi nematoda yang tinggi, atau sebelumnya lahan ditanami tembakau, terung, tomat, atau cabe yang pernah terserang.
Pengendalian
Tanaman yang layu dimusnahkan
Untuk mengurangi penyebaran, sebarkan Natural GLIO.
4. Penyakit Keriting Daun atau Mosaik
Asal serangan penyakit mosaik adalah virus Cucumber Mosaic Virus (CMV). Gejalanya, pertumbuhan menjadi kerdil, warna daun belang-belang hijau tua dan hijau muda, ukuran daun lebih kecil, tulang daun akan berubah menguning. Penyakit ini bisa menyebar dan menular ke tanaman lain oleh aktivitas serangga.
Pengendalian:
Pemilihan benih tahan virus membantu menghindari resiko serangan penyakit ini.
Bibit yang terserang dicabut dan dibakar
Semprot vektor (serangga pembawa) virus dengan BVR atau PESTONA.
5. Penyakit Virus Kuning
Penyakit ini disebabkan oleh Gemini virus Tanaman cabe yang terserang virus kuning, daun dan batangnya akan terlihat menguning (sesuai dengan namanya..). Penyakit ini disebut juga penyakit bule atau bulai. Penyakit ini bisa dibawa dari benih atau biji dan ditularkan oleh kutu. Sumbernya bisa dari gulma, atau tanaman sakit lainnya (cabai, tomat)
Pengendalian: Sama dengan pengendalian penyakit keriting daun
6. Penyakit Busuk Batang, Akar dan Buah
Terdapat dua macam penyakit busuk yang biasa menyerang tanaman cabe, yakni busuk batang dan busuk kuncup. Busuk batang pada tanaman cabe disebabkan oleh Phytophthora capsici. Menyerang saat musim hujan dan penyebarannya sangat cepat.
Busuk kuncup disebabkan oleh cendawan Choanosearum sp. Penyakit ini masih jarang dijumpai di Indonesia. Gejalanya, kuncup tanaman berwarna hitam dan lama kelamaan mati.
Pemicu perkembangan penyakit ini dapat berupa :
drainase yang kurang baik
penggunaan pupuk N (Urea) yang terlalu tinggi
pupuk kandang tidak matang (sebaiknya pakai pupuk bokashi)
jumlah nematoda yang terlalu banyak
sebelumnya lahan ditanam cabe atau mentimun
Pengendalian:
Penyakit ini bisa dikendalikan dengan mengurangi dosis pemupukan Nitrogen seperti urea dan ZA.
Mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara berjalan lancar.
Tanaman yang sudah terinfeksi sebaiknya dicabut dan dibakar.
Penggunaan Agensia Hayati Natural GLIO.
Itulah beberapa jenis hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman cabai di Indonesia. Sebagai langkah pencegahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman cabai tersebut bisa dilakukan beberapa hal berikut ini:
Semprot PENTANA 3-5 tutup/tangki atau PESTONA 5-10 tutup/tangki + AERO tutup/tangki (sebaiknya dilakukan rutin tiap 5-10 hari)
Semprot BVR 30 gr/tangki (diselang-seling dengan aplikasi PENTANA atau PESTONA, interval 5-10 hari)
Pasang perangkap METILAT LEM.
Fase Panen dan Pasca Panen
Pemanenan
Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya
Cara Panen
Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
Pemanenan yang baik dilakukan pagi hari setelah embun kering